TIMES SORONG, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa implementasi kebijakan biodiesel B40 berhasil mengurangi impor solar sebesar 3,3 juta kilo liter (kL) pada tahun 2025. Selain itu, kebijakan ini juga menghemat devisa Rp130,21 triliun dan menurunkan emisi karbon hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.
“Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa pemanfaatan biodiesel dalam negeri pada 2025 mencapai 14,2 juta kL, melampaui target sebesar 13,5 juta kL. Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi pemerintah untuk menargetkan penghentian total impor solar pada tahun 2026.
Optimisme tersebut didorong oleh dua faktor kunci:
-
Uji coba biodiesel B50 yang dijadwalkan selesai pada semester pertama 2026, dengan implementasi penuh direncanakan di semester kedua jika evaluasi berhasil.
-
Operasional proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur, yang akan meningkatkan kapasitas produksi solar dalam negeri secara signifikan.
“Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026,” tegas Bahlil.
Meski demikian, pemerintah masih membuka opsi impor terbatas untuk solar CN51 berkualitas tinggi yang digunakan industri alat berat, mengingat kapasitas produksi domestiknya masih dalam pengembangan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Implementasi B40 Tekan Impor Solar 3,3 Juta kL, Target Bebas Impor 2026 Makin Nyata
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Faizal R Arief |